Kecerdasan Emosi Berhubungan Dengan Inferiority Feeling Remaja

Hubungan Antara Kecerdasan Emosi Dengan Inferiority Feeling Pada Remaja

Pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi selama masa remaja tidak selalu dapat ditangani dengan baik. Pada masa ini mereka banyak mengalami permasalahan, khususnya psikososial. Karena persoalan-persoalan yang dihadapi remaja sangat kompleks, banyak hambatan-hambatan psikososial yang dihadapinya. Disatu sisi mereka memiliki dorongan kuat untuk mengatasi dan mencapai apa yang diinginkan, disisi lain keinginan tersebut tidak realistis. Remaja yang salah penyesuaian diri cenderung akan melakukan tindakan-tindakan yang tidak realistis bahkan cenderung melarikan diri dari tanggung jawabnya (Notosoerdijo dan Latipun, 2002).
Remaja terjebak dalam cara berfikir yang salah sehingga menghasilkan suatu sikap dan perilaku yang merugikannya dan mengakibatkan hati dan pikirannya tidak tenang. Akibatnya senang menyendiri, wawasannya menjadi sempit bahkan mempersulit dan memperbesar masalahnya dimana dia menjadi terpojok dan tidak mampu menghadapinya. Pada akhirnya kesemuanya itu memunculkan perasaan galau, gelisah, rendah diri atau minder serta penyesalan diri (inferiority feeling).
Adler (Sujanto, 1986) mengemukakan bahwa inferiority feeling adalah perasan yang muncul karena keterbatasan fisik yang kemudian muncul perasaan kurang berharga, rasa diri kurang atau rasa rendah diri yang timbul karena perasaan kurang berharga atau kurang mampu dalam semua kehidupan dan membandingkan dirinya dengan orang lain. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain hanya sia-sia, karena setiap individu berada dalam jadwal perkembangan yang berbeda-beda baik secara fisik, mental dan sosial.
Inferiority feeling itu timbul karena adanya penilaian diri remaja dan penilaian tersebut berdasarkan pada norma orang lain. Akibatnya jika norma tersebut tidak terpenuhi, remaja merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Kesimpulan berikutnya adalah dia tidak “ layak ” yaitu tidak pantas sukses dan bahagia. Menurut Maltz (2000) semua itu terjadi karena mereka membiarkan dirinya terhipnotis oleh ide yang keliru, bahwa “ seharusnya aku seperti orang lain ”. Perasaan inferiority feeling ini bermula dari kesimpulan diri sendiri daripada melihat fakta atau pengalaman-pengalamannya yang juga diperoleh dari orang lain (Anthony, 1993) dan semuanya itu ditekannya hingga remaja menerima kesimpulan yang didapatnya dan diyakini sebagaimana adanya (Peale, 1992).
Anthony (1993) menambahkan bahwa setelah remaja tersebut mempercayai sesuatu yang dianggap benar, apakah itu benar atau salah, maka dia akan bertindak seolah-olah seperti hal tersebut. Dia akan berusaha mengumpulkan fakta-fakta untuk mendukung keyakinan itu walaupun keyakinan tersebut salah. Pada akhirnya semua tindakan serta reaksi selanjutnya akan didasarkan pada keyakinannya yang salah.
Sesungguhnya, bayangan pikiran yang dimiliki setiap remaja mengenai diri sendiri, juga bayangan pikiran mengenai apa yang akan dilakukan, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan pribadinya. Seperti yang dikemukakan oleh James Allen (Abdullah, 2004), “ Segala sesuatu yang dilakukan seseorang adalah reaksi langsung dari apa yang ada dalam pikirannya ”.
Penelitian Thurston (Handayani, 1996) menyatakan bahwa remaja yang memiliki kecemasan tinggi cenderung mengalami kesulitan dalam mengamati perilakunya sendiri maupun dalam merumuskan konsep dirinya sesuai dengan kenyataan yang ada, karena mereka mempunyai kepercayaan diri yang cenderung rendah sehingga hanya dapat melihat dirinya lebih rendah dari orang lain. Bahwa setiap manusia unik, yang tidak akan menjadi orang lain. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, namun pemikiran yang tidak rasional tentang dirinya akan mengembangkan perasaan inferiority feeling (London, 2002). Penelitian Rahmat (1986) mengemukakan bahwa orang yang kurang percaya diri cenderung dianggap tidak menarik, tidak puas, malas dalam studi sehingga cenderung gagal secara akademik.
Untuk itu perlu adanya kemampuan membina dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan saling memberi dan menerima. Keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi yang positif ini diperoleh dengan kemampuan individu untuk memelihara kecerdasan emosinya. Apabila setiap individu memelihara dan mengembangkan kecerdasan emosinya untuk dirinya sendiri maupun orang lain maka hidupnya akan merasa tenang dan nyaman serta memiliki harapan yang positif tentang hidupnya dan hubungannya dengan orang lain sehingga sikap inferiority feeling tidak akan ada dalam benak dan bayangan setiap manusia, khususnya para remaja.
Salovey dan Mayer (Goleman, 1999) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan. Lebih lanjut Salovey (Goleman, 1999) mengatakan bahwa orang yang cerdas secara emosional memiliki kesadaran diri yang baik, mampu mengendalikan emosi, mengendalikan diri, berempati dan memiliki keterampilan sosial yang baik sehingga perilakunya senantiasa terkendali dan dapat menjalin hubungan sosial dengan baik. Sebaliknya orang yang tidak cerdas secara emosional menunjukkan perilaku tidak terkontrol yang cenderung digerakkan oleh emosi dan tidak mampu menjalin hubungan interpersonal dengan baik. Pendapat tersebut didukung oleh penelitian Setyadi (1998) yang menyatakan bahwa individu yang dapat mengendalikan emosinya akan mendapatkan reaksi positif dari lingkungan sosialnya. Ini dapat meningkatkan kepercayaan diri yang telah dimiliki sebelumnya.
Pendapat lain dikemukakan oleh Cacioppo (Goleman, 2004) yang menyebutkan bahwa interaksi sosial berjalan lancar karena adanya kemampuan menyesuaikan diri dengan susana hati orang lain. Orang yang tidak mampu menerima dan mengirimkan emosi mudah kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, karena seringkali tidak nyaman jika berhadapan dengan orang lain.
Goleman (2004) menambahkan bahwa kecerdasan emosi sebagai suatu kemampuan untuk memotivasi diri dan bertahan terhadap frustrasi, mengendalikan dorongan hati, mengatur suasana hati yang dapat mempengaruhi kemampuan berfikir serta berempati.
Berdasarkan dari penjelasan yang telah dikemukakan tersebut dapat disimpulkan bahwa remaja mengalami inferiority feeling merupakan perilaku yang menunjukkan ketidakmampuan mengembangkan diri secara sosial dan dalam menjalin hubungan interpersonal serta adanya penilaian yang negatif terhadap dirinya. Remaja yang mengalami inferiority feeling menyebabkan minder dan sulit menerima diri apa adanya, tidak yakin terhadap dirinya sendiri dan mengira orang lain tidak menyukai dirinya, peka terhadap kritik, serta pesimis (Ramdhani, 1996)
Sementara itu hasil penelitian Gottman dan Declaire (1999) menyatakan bahwa anak-anak yang belajar mengenali dan menguasai emosinya menjadi lebih percaya diri sekaligus lebih sehat secara fisik dan  akan menjadi remaja yang sehat secara emosional. Penelitian lain oleh Danner (2001) yang mengemukakan bahwa adanya perbedaan individu dalam emosionalnya terdapat dalam pengalaman hidupnya yang direfleksikan dalam kejadian hidupnya sehari-hari.
 Remaja yang merasa minder, harga diri rendah serta malu berhubungan dengan orang lain disebabkan kurangnya dukungan orang tua, kurang kasih sayang, tidak adanya kesempatan untuk berusaha, adanya cap atau label buruk dari lingkungan yang semuanya itu berhubungan dengan masa lalunya. Sehingga remaja mengalami depresi dan mencari alternatif pemecahannya  (www.paap93.8m, 2004).
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas bahwa perasaan rendah diri merupakan salah satu sikap mental seseorang dalam menilai diri sehingga menimbulkan perasaan kurang, tidak mampu, tidak yakin terhadap sesuatu yang ingin dilakukan. Rasa rendah diri ini muncul karena tidak adanya kesadaran emosi dan motivasi yang dapat dilihat dari aspek kecerdasan emosi. Remaja yang mengalami inferiority feeling memiliki motivasi yang rendah, kesadaran diri rendah dan juga keterampilan sosial yang rendah. Hal ini berarti remaja tersebut memiliki kecerdasan yang rendah., dengan demikian ada hubungan negatif antara kecerdasan emosi dengan inferiority feeling pada remaja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: