Kecerdasan Emosi Berhubungan Dengan Kualitas Persahabatan Remaja

Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Kualitas Persahabatan Pada Remaja Akhir

Individu yang mempunyai kecerdasan emosional merupakan individu yang terampil dalam kecerdasan sosial yang dapat menjalin hubungan dengan orang lain dengan cukup lancar, peka membaca reaksi dan perasaan mereka, mampu memimpin dan mengorganisir, dan pintar menangani perselisihan yang muncul dalam setiap kegiatan manusia. Individu seperti inilah yang disukai oleh orang di sekitarnya karena secara emosional mereka menyenangkan, membuat orang lain merasa tentram. Jika dihubungkan dengan persahabatan maka individu yang mempunyai kecerdasan emosional dapat menjalin dan membina persahabatan dengan lebih mudah karena kecerdasan emosional sangat mempengaruhi kehidupan seseorang secara keseluruhan mulai dari kehidupan dalam keluarga, pekerjaan sampai interaksi dengan lingkungan sosialnya (Prihanto dalam Tjundjing, 2001).
Persahabatan mempunyai arti penting dalam kehidupan remaja. Dalam persahabatan itu remaja mulai belajar untuk mengerti dirinya sendiri, belajar bekerja sama dengan orang lain dan belajar tingkah laku – tingkah laku lain yang membantunya dalam kehidupan selanjutnya. Persahabatan sendiri berkembang dari masa anak-anak sampai masa remaja. Pada masa anak, cepatnya memperoleh teman menjadi patokan di dalam persahabatan karena berdasarkan kebutuhan saja, sedangkan pada masa remaja lebih mengutamakan kualitas dalam persahabatan sehingga persahabatannya lebih mendalam. Persahabatan pada masa awal remaja merupakan salah satu alat yang signifikan untuk memprediksi harga diri pada masa dewasa awal (Bagwell, Newcomb dan Bukowski, 1994 dalam Santrock, 2003). Karakteristik yang dipilih seseorang menjadi teman atau sahabat adalah riang, kooperatif, baik hati, jujur, murah hati, lembut dan sportif (Baller dan Charles, 1968 dalam Ratnaningrum, 1999). Douvan dan Adelson (Ratnaningrum, 1999) mengatakan bahwa persahabatan pada masa remaja tengah menjadi lebih mendalam karena pusat perhatian sudah beralih pada arti hubungan dan tuntutan akan adanya orang yang dapat mengerti dirinya, dapat memberikan dukungan emosional, peka, setia dan dapat dipercaya.
Secara umum persahabatan pada remaja lebih mendalam dan mengalami perkembangan dari masa remaja awal sampai masa remaja akhir. Berawal dari rasa tertarik akan aktivitas bermain meningkat kepada rasa tertarik akan kepribadian sahabatnya, dan mereka menyadari bahwa sahabatnya itu unik. Dalam suatu hubungan persahabatan individu saling mengenal satu sama lain. Secara lebih dekat, saling memahami perbedaan masing-masing pihak dan juga berbagi rasa. Melalui hubungan persahabatan maka individu akan mampu memahami nilai-nilai yang berbeda yang dianut orang lain, karena nilai yang berbeda menjadi dasar timbulnya perilaku yang berbeda pula (Anantasari, 1997).
Persahabatan berperan penting dalam menggambarkan kebutuhan interpersonal selama masa remaja. Dengan persahabatan, seorang remaja akan memperoleh teman untuk bergaul, sehingga akan dapat mengembangkan keterampilan sosial, konsep diri, harga diri, dan akan memperoleh dukungan emosional bila menghadapi suatu masalah. Nilai-nilai spesifik seperti kepercayaan, keterbukaan, saling berbagi suka dan duka, belajar mengatasi konflik secara efisien dan sebagainya terdapat juga di dalam persahabatan (Rahmadi, 2002). Kekuatan hubungan, menghargai kebutuhan interpersonal, kemampuan dalam mempertahankan hubungan dari ketegangan atau kesulitan merupakan aspek yang terdapat dalam kualitas persahabatan. Kekuatan hubungan dalam persahabatan merupakan tingkatan dimana seseorang melakukan interaksi bersama sahabatnya dan berpikir bahwa sahabatnya tidak dapat diganti dengan orang lain. Menghargai kebutuhan interpersonal menuju pada seberapa jauh seseorang percaya bahwa sahabatnya mendukung cita-citanya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya seperti kekuatan diri dan dorongan. Kemampuan dalam mempertahankan hubungan dari ketegangan atau kesulitan mengindikasikan bagaimana seseorang mampu mempertahankan hubungan ketika mengalami kekecewaan, gangguan, atau situasi tidak menyenangkan dalam berinteraksi dengan sahabatnya dikarenakan karakteristik pribadi seseorang atau karena keadaan dari luar.
Pada masa remaja, saat tingkat ketergantungan terhadap orang tua mulai menurun dan teman sebaya memegang peranan penting dalam kehidupan seorang remaja. Kurang lebih 90% interaksi remaja dikendalikan oleh teman sebayanya. Interaksi dengan teman sebaya memberi kesempatan yang lebih besar bagi seseorang untuk meningkatkan perkembangan sosial, perkembangan emosi, serta memudahkan dalam membina hubungan interpersonal (Moshman, dkk, dalam Rahmadi, 2002). Ahli lain menyatakan bahwa penerimaan dari teman sebaya merupakan prediktor penyesuaian psikososial (Conger, 1977 ; Hartup dalam Connolly dan Doyle, 1981). Sebaliknya seseorang yang tidak memiliki teman akan beresiko mengalami kesulitan pada perkembangan sosial dan emosionalnya (Hartup dalam Guralnick dan Groom, 1988).  
Kenyataan memperlihatkan bahwa tidak semua remaja berhasil atau mampu melakukan hubungan persahabatan yang baik atau serius, baik lahir maupun batin. Banyaknya keluhan remaja pada rubrik-rubrik konsultasi remaja menandakan bahwa remaja mengalami permasalahan di dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam kualitas persahabatan yang terjalin di antara remaja tersebut. Pada rubrik-rubrik konsultasi tersebut terdapat berbagai permasalahan seperti remaja tidak bisa menjalin hubungan persahabatan hanya bisa untuk menjadi teman biasa, remaja kesulitan untuk mendapatkan sahabat, sering terjadi perselisihan dalam hubungan persahabatan yang menyebabkan kualitas persahabatannya menurun bahkan ada kecenderungan untuk mencari orang lain untuk dijadikan sahabat.
Hal-hal seperti yang telah diuraikan sebelumnya sebenarnya terkait dengan aspek-aspek yang terdapat dalam kecerdasan emosional seperti mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membangun hubungan dengan orang lain. Sebagai contoh keterkaitan antara aspek kecerdasan emosional dengan aspek kualitas persahabatan yaitu ketika remaja kesulitan dalam mempertahankan hubungan persahabatan pada saat terjadi ketegangan atau kesulitan. Remaja tersebut adalah orang yang sensitif sehingga dia berpikir bahwa sahabatnya yang harus mengerti dia akan sifat sensitifnya. Tak jarang dalam berhubungan selalu terjadi perselisihan yang berakibat retaknya hubungan persahabatan (Cosmogirl, 2004).
Keadaan seperti ini terkait dengan aspek-aspek kecerdasan emosional seperti mengenali emosi diri, mengelola emosi dan memotivasi diri untuk memperbaiki hubungan persahabatan. Remaja tersebut seharusnya dapat mengenali emosi diri dan mengelola emosi yang dimiliki, karena dengan mengenali emosi diri seseorang mampu mencermati dan menguasai perasaannya sehingga tidak akan sampai terjadi permasalahan yang berlarut-larut yang membuat hubungan persahabatan tersebut retak. Ketika remaja mampu mengelola emosinya hingga dapat mengungkapkan perasaan apa yang sebenarnya sedang dialami secara terbuka sehingga tidak akan terjadi permasalahan. Stein dan Book (2002) mengungkapkan bahwa kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri dapat membuat seseorang untuk mengenali perasaannya dan mengungkapkan perasaan dengan tepat, sehingga membuat orang tersebut mampu mengendalikan perilaku dan mampu membina hubungan yang lebih akrab dan lebih jujur dengan orang lain. Di samping itu motivasi yang ada di dalam diri seorang sahabat dapat memperbaiki hubungan persahabatan karena dengan motivasi yang dimiliki remaja untuk menyelesaikan permasalahan dapat membuat hubungan persahabatan kembali seperti semula, seperti yang diungkapkan Shapiro (2003) bahwa orang yang termotivasi mempunyai keinginan dan kemauan untuk menghadapi dan mengatasi rintangan-rintangan. Motivasi seseorang dalam menyelesaikan permasalahan menentukan keberhasilan di dalam kehidupan (Goleman, 2005).
Contoh yang kedua adalah pada saat remaja tidak mampu untuk menghargai kebutuhan interpersonal sahabatnya sehingga membuat remaja tidak dapat memberikan kekuatan atau dorongan untuk sahabatnya. Remaja dengan inisial M ini berusia 22 tahun mempunyai sahabat dengan inisial N. Setiap M mempunyai permasalahan, dia tidak bisa bercerita kepada N. Pada saat M bertemu dengan teman yang lain yaitu D, dia bisa mengungkapkan semua permasalahannya. Pada saat terjadi permasalahan sahabatnya N hanya bisa bertanya tanpa dapat memahami dan merasakan permasalahan yang sedang menimpa M (www.servocenter.wordpress.com).
Remaja yang dapat memahami dan merasakan permasalahan yang sedang menimpa sahabatnya memiliki sikap dapat menghargai terhadap kebutuhan interpersonal yang berarti bahwa remaja itu mampu memberikan kekuatan dan dorongan untuk temannya sehingga dapat membantu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi. Menghargai kebutuhan interpersonal antar sahabat sangat diperlukan dalam hubungan persahabatan karena sikap seperti ini membuat remaja yakin dan percaya bahwa sahabatnya dapat menghargai dan mendukung remaja tersebut.
Keadaan seperti ini terkait dengan aspek-aspek kecerdasan emosional seperti mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. Empati atau mengenali perasaan orang lain dibangun atas kesadaran diri, turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dan siap membantu jika diperlukan. Dalam hal ini remaja yang membantu mengatasi permasalahan dapat mengenali emosi orang lain dengan merasakan apa yang dirasakan temannya jika terjadi sesuatu yang dialami sahabatnya. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.  Ekowarni (Djuwarijah, 2002) mengungkapkan bahwa salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengembangkan sikap mampu mengenal emosi adalah mengembangkan sikap empati yaitu dengan melatih sikap peduli pada orang lain dan peka pada kesulitan orang lain serta berusaha untuk membantunya.
Dari contoh di atas mengartikan bahwa remaja tersebut dapat memahami perasaan temannya yang semuanya itu ada di dalam aspek kecerdasan emosional seperti mengenali emosi orang lain. Di samping itu membina hubungan dengan orang lain merupakan salah satu aspek kecerdasan emosional yang terkait dengan masalah persahabatan. Dari contoh dapat dilihat bahwa remaja tersebut memiliki kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain dalam bentuk hubungan persahabatan. Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan suasana hati orang lain, atau dengan mudah dapat membawa orang lain berada di bawah pengaruhnya, maka pada tingkat emosional pergaulan orang tersebut menjadi lebih lancar (Cacioppo dalam Goleman, 2005). Dengan memiliki keterampilan sosial bentuk ini maka seseorang tidak akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.
Dari uraian di atas terlihat bahwa adanya keterkaitan atau hubungan antara aspek-aspek yang terdapat di dalam kecerdasan emosional dan aspek-aspek yang terdapat di dalam kualitas persahabatan. Dari uraian ini maka sebenarnya peneliti ingin meneliti sejauh mana hubungan antara kecerdasan emosional dan kualitas persahabatan pada remaja.

Artikel Terkait :
1. Kecerdasan Emosi Berhubungan Dengan Inferiority Feeling Remaja
2. Pelatihan Kecerdasan Emosi Mampu Mempengaruhi Kecerdasan Emosi Anak
3. Pelatihan Kecerdasan Emosi Mampu Meningkatkan Kontrol Diri Narapidana
4. Pelatihan Kecerdasan Emosi Mampu Meningkatkan Perkembangan Moral
5. Pelatihan Kecerdasan Emosi Mempengaruhi Tingkat Kepercayaan Diri

Tags :

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: