Ketrampilan Sosial Berhubungan Dengan Agresivitas Remaja


Hubungan Antara Keterampilan Sosial Dengan Agresivitas Remaja


Supranata (Kurniawan, 1997) mengemukakan bahwa perubahan sosial yang cepat sering menimbulkan kondisi pertentangan atau ketidak sesuaian nilai dan norma yang menjadi pedoman berperilaku dalam masyarakat. Mobilitas sosial yang tinggi, informasi-informasi dari media massa yang beraneka ragam, kemajuan ekonomi dan teknologi yang pesat menyebabkan munculnya perubahan dan permasalahan dalam hal ini kalangan remaja.
Comb dan Slaby (Cartledge dan Milburn, 1995) menyatakan bahwa keterampilan sosial merupakan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain di dalam konteks sosial yang dihadapi melalui cara-cara spesifik yang dapat diterima atau dinilai secara sosial dan pada waktu yang sama bermanfaat bagi personal, bagi keduanya, atau terutama bagi orang lain. Hal ini disebabkan pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas, dimana pengaruh teman-teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Jika seorang remaja gagal menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan seorang remaja sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, maka dapat menyebabkan timbulnya perasaan dikucilkan dari pergaulan, rendah diri, timbul perilaku yang kurang normatif bahkan sampai pada keadaan ekstrim sehingga terjadi gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, dan tindak kekerasan.

Remaja memiliki resiko tinggi untuk terlibat dalam tindak kenakalan. Dan perilaku ini bisa terjadi karena akumulasi berbagai faktor internal dan eksternal, seperti pola asuh dengan lingkungan rumah, sekolah dan teman sebaya. Dalam kenyataannya, manusia hidup dalam suatu masa dan suatu lingkungan dimana agresi dan kekerasan dianggap sebagai cara “mengungkapkan perasaan” dan cara “menyelesaikan persoalan”. Agresi merupakan tingkah laku yang dipelajari dan melibatkan faktor eksternal sebagai determinan pembentuk agresi tersebut.
Sekolah mempunyai pengaruh yang cukup besar, yang tentunya diharapkan positif terhadap perkembangan jiwa remaja, karena sekolah adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat disamping mengajarkan berbagai keterampilan dan kepandaian kepada siswanya. Akan tetapi, fungsi sekolah sebagai pembentuk nilai dalam diri anak sekarang ini banyak menghadapi tantangan. Lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya. Apa yang dikatakan guru tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran meskipun guru itu disegani. Apalagi kalau sekolah berlokasi di pusat keramaian dimana terjadi titik singgung yang terus menerus setiap hari antara anak-anak yang akan ke sekolah atau pulang dari sekolah dengan berbagai manusia dan rangsangan sosial yang bermacam-macam coraknya seperti pusat perbelanjaan (Sarwono, 1989). Lebih lanjut Berkowitz (1995) mengemukakan bahwa pengasuh anak juga bisa mendorong agresivitas anak dengan menempatkan anak pada kondisi yang tidak menyenangkan misalnya penolakan dan perlakuan kasar orang tua terhadap anak yang biasanya diatribusikan pada hukuman fisik (pukulan). Sarwono (1989) pengaruh lingkungan masyarakat terhadap perkembangan jiwa remaja sangat besar, akan tetapi bagaimanapun keluarga dan sekolah masih tetap lingkungan primer dan sekunder dalam dunia anak dan remaja. Lingkungan masyarakat hanyalah lingkungan tertier (ketiga) yang derajat kekuatannya untuk merasuk ke dalam jiwa anak dan remaja seharusnya tidak sekuat keluarga dan sekolah. Lingkungan masyarakat bisa kuat pengaruhnya pada umumnya disebabkan karena lingkungan primer dan sekunder yang sudah menurun kadar pengaruhnya.
Pengalaman-pengalaman atau kejadian yang tidak menyenangkan yang dialami oleh individu dapat menyebabkan individu berperilaku agresif. Kejadian yang tidak menyenangkan ini dapat diperoleh individu yang berasal dari konflik dengan teman, masalah dengan keluarga maupun dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga jika individu tidak memiliki keterampilan sosial yang cukup dapat menyebabkan indivdiu berperilaku agresif. Keterampilan sosial menjadi semakin penting manakala individu menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh teman dan lingkungan sosial akan sangat menentukan.
Gresham dan Elliot (Adiyanti, 1999) bahwa keterampilan sosial dipergunakan untuk memperkirakan beberapa perilaku sosial antara lain penerimaan kelompok atau popularitas, penilaian perilaku dari orang lain yang berpengaruh, bentuk-bentuk perilaku sosial lain yang diketahui korelasi secara konsisten dengan penerimaan anak oleh kelompok sebaya. Keterampilan sosial ini juga menunjukkan keterampilan anak dalam meramalkan akibat sosial yang mungkin ditimbulkan oleh perilaku atau sikap seseorang dalam situasi sosial. Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari pergulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif (misalnya asosial ataupun anti sosial), dan bahkan dalam perkembangan yang lebih ekstrim bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, maupun tingkah laku agresif.
Mappiare (1982) menyatakan bahwa hal yang sangat penting dalam mendatangkan kebahagiaan remaja adalah terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan mendatangkan kepuasan sehingga mencapai kebahagiaan. Salah satu cara mengurangi perilaku agresi adalah dengan mengurangi frustasi (Sears, 1991). Koeswara (1988) mengemukakan bahwa yang dimaksud pengurangan frustasi adalah minimalisasi terhadap peluang terjadinya frustasi, dengan jalan membatasi atau mengurangi faktor-faktor penyebabnya. Remaja yang mendapatkan kesempatan untuk memenuhi kebutuhannya berarti akan dapat mengurangi atau meminimumkan kemungkinan mengalami frustasi. Dengan demikian, melatih keterampilan sosial akan dapat memberikan kesempatan pada remaja untuk memenuhi kebutuhannya dan dapat mengurangi frustasi remaja, yang akhirnya diharapkan akan mengurangi tingkah laku agresif remaja.
Keterampilan sosial menurut Angyle (Purwandari, 1997) sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam berhubungan dengan keluarga, teman, tetangga, di lingkungan kerja, dan sebagainya. Remaja yang mempunyai keterampilan sosial tidak akan mudah lagi terjebak dalam sikap, perilaku, kebiasaan ataupun hal-hal lain yang dapat menghambat perkembangannya menuju kondisi dewasa. Keterampilan yang tinggi pada masa remaja akan membawa individu untuk dapat menempatkan diri pada posisi yang semakin baik di masyarakat.
Hendriani (2001) menemukan bahwa tidak adanya perbedaan keterampilan sosial antara remaja awal yang ibunya bekerja dengan remaja awal yang ibunya tidak bekerja. Elfida (1995) menemukan bahwa ada hubungan yang negatif antara kontrol diri dengan kecenderungan berperilaku delinkuen, artinya semakin seseorang mampu mengontrol diri maka semakin kecil untuk berperilaku delinkuen. Djuwarijah (2002) dalam penelitiannya tentang hubungan antara kecerdasan emosi dan pengasuhan islami dengan agresivitas dan hasilnya ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dan pengasuhan islami dengan agresivitas remaja. Artinya kecerdasan emosi dan pengasuhan islami mempunyai hubungan yang negatif dengan agresivitas remaja. Semakin tinggi kecerdasan emosi dan semakin islami pengasuhan orangtua, semakin rendah tingkat agresivitas remaja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: