Komunikasi Remaja Dan Orangtua Berkorelasi Dengan Agresivitas Remaja

Hubungan Antara Komunikasi Remaja Dan Orang Tua Dengan Agresivitas Remaja Laki-Laki


Para psikolog dan psikiater telah lama menganggap bahwa keluarga sebagai tempat di mana karakter pribadi ditempa dan sekaligus merupakan sumber utama kecenderungan antisosial. Berdasarkan hasil studi pioneer terhadap 2000 remaja nakal, William Healy dan Augusta Broner mengatakan bahwa orang tua mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan anak (Berkowitz , 1995).

Komunikasi orang tua dan remaja

Beberapa prediktor agresivitas meliputi identitas (identitas negatif), pengendalian diri (derajat rendah), usia (telah muncul pada usia dini), jenis kelamin (anak laki-laki lebih banyak terlibat dalam perilaku anti sosial daripada anak perempuan, meskipun anak perempuan lebih cenderung melarikan diri dari rumah. Anak laki-laki lebih banyak terlibat dalam tindakan-tindakan kejahatan), peran orang tua (kurangnya pemantauan, dukungan yang rendah yang mengakibatkan kurangnya komunikasi dan disiplin yang tidak efektif) dan kualitas lingkungan (Santrock, 1995).

Perilaku agresif seperti disebutkan di atas dapat terjadi pada siapa saja, termasuk juga pada remaja. Remaja berada pada rentang usia 12- 22 tahun, dimana masa remaja dikatakan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa peralihan ini terjadi perubahan-perubahan yang cukup berarti bagi perkembangan manusia yaitu adanya perubahan fisik, psikologis maupun sosial.

Agresivitas yang terjadi pada remaja laki-laki terjadi karena berbagai macam variabel, variabel situasional dan variabel individual. Remaja yang masih dalam proses perkembangan tersebut mempunyai kebutuhan-kebutuhan pokok terutama kebutuhan rasa aman, rasa sayang, dan kebutuhan rasa harga diri. Disini remaja yang masih dalam masa transisi sangat memerlukan dukungan dari keluarga untuk melalui tugas-tugas perkembangannya, sehingga peran orang tua sangat besar. Salah satu kewajiban orang tua dalam membantu anak-anaknya melewati masa ini yaitu memberikan dukungan.

Wujud dari dukungan itu salah satunya pemberian kasih sayang secara wajar kepada anak. Kasih sayang yang wajar bukanlah dalam wujud materi berlebihan, akan tetapi dalam bentuk hubungan psikologis dimana orang tua dapat memahami perasaan anaknya dan mampu memahami perasaan anaknya dan mampu mengantisipasinya dengan cara-cara edukatif. Orang tua yang terlalu sibuk tidak akan dapat memberikan kasih sayang yang wajar terhadap anaknya. Anak-anak akan mencari kompensasi kasih sayang itu diluar rumah misalnya dalam kelompok remaja yang mempunyai masalah penyimpangan perilaku.

Agresivitas Remaja

Kasih sayang yang diberikan orang tua berupa hubungan emosional yang akrab yang termanifestasi dalam bentuk komunikasi yang akrab dan terbuka sehingga orang tua mengetahui perasaan, keinginan, motivasi, gagasan anaknya, sehingga akan tertanam sikap untuk mengerti dan mengenal dirinya pribadi dan orang tua dan juga akan menimbulkan rasa aman pada diri remaja karena merasa ada orang yang mendukungnya. Komunikasi adalah kebutuhan vital dari anak, dengan komunikasi yang baik, disiplin dapat dipertahankan, nilai-nilai baik dapat ditanamkan dan nilai-nilai buruk dapat ditekan kemunculannya.

Banyak orang tua yang merasa bahwa perbedaan pendapat antar generasi adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Namun dengan adanya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak menunjukkan adanya penerimaaan orang tua terhadap anak, sehingga perbedaan pendapat dapat disatukan. Penerimaan tersebut akan menimbulkan rasa aman yang menjamin suasana yang tenang dan dapat membantu kearah perkembangan remaja yang wajar dan sehat jasmani dan rohani.

Apabila kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang tidak terpenuhi, berarti komunikasi antara remaja dan orang tua juga tidak terpenuhi akan dapat menimbulkan kegelisahan dan kegelisahan akan menimbulkan tingkah laku negatif. Daradjat (1994) mengatakan bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang perlu dipenuhi, jika tidak dipenuhi akan terjadi goncangan. Pada prinsipnya manusia ingin memenuhi kebutuhan dengan cara yang ia pilih. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi maka individu akan mengalami suatu problem.

Kemungkinan remaja akan mengalami frustrasi karena tidak terjalinnya komunikasi antara dirinya dengan orang tua. Frustrasi merupakan salah satu variabel yang dapat menyebabkan agresi. Tidak adanya komunikasi ini menyebabkan frustrasi pada remaja, yang juga menimbulkan afek negatif (perasaan negatif) di dalam dirinya, atau memunculkan nilai-nilai proagresi sebagai wujud ketidaknyamanannya. Selanjutnya, variabel situasional dan individual tersebut akan mempengaruhi tiga proses dasar yaitu keterangsangan, afeksi dan kognisi untuk mewujudkan perilaku agresif secara nyata.

Gerungan (1978) mengemukakan bahwa keluarga adalah kelompok sosial utama dimana anak belajar menjadi manusia sosial. Di dalam interaksi sosial yang wajar anak akan memperoleh perbekalan yang memungkinkan untuk menjadi anggota masyarakat yang berharga. Salah satu pertanda hubungan baik antara orang tua dan anak , yaitu bahwa anak tidak segan-segan menceritakan isi hatinya kepada orang tua. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, anak yang agresif cenderung untuk tidak menceritakan isi hatinya ataupun cita-citanya kepada orang tuanya daripada anak-anak biasa.

Adanya komunikasi yang terbuka – dimana anak dan orang tua mau membuka diri, mengungkapkan informasi tentang dirinya, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, gagasan yang biasanya kita sembunyikan sehingga orang lain mengerti dan mengenal dirinya sendiri sehingga kelemahan dan kekurangan yang dimilikinya akan dapat diterima; empati – kemampuan untuk merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain, sehingga dalam berkomunikasi mampu merasakan dan memahami hal yang sama dengan orang lain tanpa kehilangan identitas diri; dukungan – usaha yang dilakukan seseorang untuk menghargai lawan bicaranya yang menjadikan orang bebas dalam mengemukakan pendapatnya; sikap positif – menghargai lawan bicara yang dapat membuat seseorang menghargai dirinya sendiri secara positif pula; kesamaan – sejauh mana antara remaja dan orang tua mempunyai kesamaan, sehingga ketidaksetujuan dan konflik dipandang sebagai usaha untuk memahami perbedaan pendapat; dapat menciptakan suasana yang nyaman dalam keluarga dan dapat membantu kearah perkembangan remaja yang wajar dan sehat jasmani dan rohani sehingga perilaku agresif dapat ditekan kemunculannya.

Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Miller (1993) bahwa apabila orang tua kurang dapat menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya, seperti kurang hangat dan terbuka, kurang melindungi, kurang dapat membimbing atau mengarahkan, maka anak akan cenderung menunjukkan perilaku agresif dan perilaku interpersonal lainnya (ancok & Apollo, 2003).

Uraian diatas dapat ditarik kesipulan bahwa komunikasi di dalam sebuah keluarga hendaknya berlangsung atas dasar simpati dan cinta kasih yang timbal balik, yang mana menjaminkan hubungan baik dan juga perkembangan psikologis anak yang sehat dan wajar, sehingga perilaku negatif anak dapat dihindari.

Artikel Psikologi Yang Berhubungan :

  1. Korelasi Konsep Diri Dengan Komunikasi Interpersonal Remaja
  2. Ketrampilan Sosial Berhubungan Dengan Agresivitas Remaja
  3. Pelatihan Ketrampilan Sosial Mempengaruhi Efektivitas Komunikasi
  4. Kecenderungan Kenakalan Remaja Karena Pola Asuh Otoriter
  5. kontrol Diri Dan Persepsi Remaja Yang Merokok Dan Tidak Merokok

Jurnal Psikologi

Satu Tanggapan

  1. bisa tolong kasih tau daftar pustakanya?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: