Kontrol Diri Berkorelasi Dengan Perilaku Seksual Remaja

Hubungan Kontrol Diri Dengan Perilaku Seksual Remaja


Kontrol diri memiliki keterkaitan dengan perilaku seksual pada remaja. Keterkaitan antara kontrol diri dengan perilaku seksual pada remaja memperlihatkan bahwa kemampuan mengendalikan diri remaja berperan penting dalam menekan perilaku seksualnya. Perilaku seksual pada remaja dapat ditekan apabila terdapat kontrol diri yang kuat. Kontrol Diri Remaja Remaja yang memiliki kontrol diri kuat mampu menahan atau mengendalikan dorongan-dorongan seksual yang timbul dari dalam dirinya. Setiap dorongan seksual yang muncul dapat dikendalikan remaja dengan cara mengalihkan pikiran dalam arti tidak memikirkan hal-hal yang dapat semakin mendorong gairah seksualnya. Selain itu, remaja yang memiliki kontrol diri kuat juga dapat mengalihkan timbulnya dorongan seksual pada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti olah raga atau terlibat dalam kegiatan sosial. Banyaknya aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh remaja merupakan salah satu faktor yang dapat meminimalkan terjadinya perilaku seksual dalam bentuk apapun.
Perilaku seksual pada remaja dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perubahan hormonal, pergaulan bebas, pemahaman yang kurang mengenai seks, dan kontrol diri. Remaja yang mampu mengatur dirinya akan berkurang perilaku seksualnya dibandingkan dengan remaja yang merasa dirinya mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar dirinya (Sarwono, 2005). Selain itu, remaja yang ingin dikagumi atau membutuhkan pengakuan dari lawan jenis tentang tubuhnya juga kurang memiliki kontrol diri terhadap perilaku seksualnya. Kontrol diri remaja yang lemah mengakibatkan terjadinya perilaku seksual seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, memegang alat kelamin, bahkan berhubungan seksual. Perilaku Seksual Remaja Perkembangan hormonal pada diri remaja tanpa disertai dengan pengetahuan yang memadai tentang seksualitas menyebabkan remaja kurang mampu mengolah atau mengendalikan diri atas peningkatan libidonya (Dariyo, 2004).
Remaja sebagai masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan psikososial tetapi belum disertai dengan kemampuan untuk mengendalikan perubahan-perubahan dalam dirinya tersebut. Oleh sebab itu, remaja cenderung kurang mampu menahan diri dari gejolak atau dorongan-dorongan seksual yang kuat dalam dirinya. Remaja yang memiliki kontrol diri kuat akan mampu mengolah seluruh dorongan yang muncul dari dalam dirinya dengan mempertimbangkan berbagai nilai yang ada di masyarakat seperti hukum, norma, dan agama. Remaja yang demikian cenderung memikirkan cara untuk lebih mengembangkan kemampuan diri dan mencoba agar dirinya dapat diterima oleh lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Kontrol diri pada remaja mencakup tiga aspek yaitu kontrol perilaku, kognitif, dan keputusan (Averill dalam Zulkarnain, 2002) Ketiga aspek tersebut berperan penting dalam mengendalikan perilaku seksual yang muncul akibat adanya dorongan atau impuls yang berkaitan dengan seksual. Perilaku seksual pada remaja menyangkut berbagai dimensi yaitu biologis, psikologis, sosial, dan kultural (Pratiwi, 2004). Remaja yang memiliki kontrol perilaku, kognitif, dan keputusan kuat akan mampu memahami dengan baik fungsi organ tubuhnya terutama organ seksualnya, menjaga perasaannya terhadap seksualitasnya sendiri, mencari informasi yang benar dan tepat mengenai seks, dan berperan serta dalam menyebarkan informasi tentang seks kepada masyarakat secara lebih luas.
Remaja terjerumus dalam perilaku seksual pada dasarnya didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui. Rasa ingin tahu tersebut merupakan salah satu karakteristik remaja yang hanya dipuaskan dan diwujudkan melalui pengalamannya sendiri (learning by doing). Karakteristik inilah yang seringkali menimbulkan masalah dalam kehidupan remaja, karena ingin mencoba segala sesuatu termasuk yang berhubungan dengan fungsi organ-organ seksual. Keingintahuan remaja terhadap hal tersebut semakin kuat seiring dengan perubahan hormonal yang berpengaruh pada perkembangan organ seksual. Perubahan hormonal gonads atau kelenjar seks tidak hanya berpengaruh pada munculnya ciri-ciri seks sekunder, tetapi juga pada kehidupan psikis, moral, dan sosial remaja. Secara psikis, perkembangan organ seksual berpengaruh kuat pada minat remaja terhadap lawan jenisnya yang kemudian berkembang pada pola kencan atau pacaran. Pada kehidupan moral, perkembangan organ seksual tidak jarang menimbulkan konflik dalam diri remaja yaitu timbulnya pertentangan akibat adanya dorongan seksual dan pertimbangan moral. Konflik moral tersebut timbul karena remaja ingin menyalurkan dorongan seksualnya, tetapi di lain pihak remaja menyadari adanya nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dan agama (Sarwono, 2005).
Remaja yang memiliki kontrol diri yang rendah, cenderung berperilaku seksual tinggi. Pada saat berduaan dengan pacar, remaja yang memiliki kontrol diri akan mudah melakukan hal-hal yang belum diperbolehkan misalnya, berciuman, meraba-raba alat kelamin pasangan, bahkan melakukan persetubuhan. Perilaku seksual ini dapat terjadi karena kontrol dalam diri remaja kurang sehingga mudah melakukan hal-hal tersebut. Sebaliknya, remaja yang memiliki kontrol diri yang kuat, akan lebih sulit melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan pada saat berpacaran. Ketika keinginan-keinginan untuk berperilaku seksual muncul, kontrol diri akan mampu mengendalikan sehingga tidak terjadi. Hal ini menggambarkan bahwa remaja yang memiliki kontrol diri rendah akan memiliki perilaku seksual yang tinggi. Hal itu diwujudkan dengan cara berciuman, memegang-megang alat kelamin pasangan, bahkan bersetubuh. Sebaliknya remaja yang memiliki kontrol diri tinggi akan memiliki perilaku seksual yang rendah. Munculnya keinginan-keinginan untuk berperilaku seksual akan dapat dikendalikan. Semakin tinggi kontrol diri remaja, maka semakin rendah perilaku seksualnya. Sebaliknya, semakin rendah kontrol diri remaja maka semakin tinggi perilaku seksualnya.

Artikel Yang Berhubungan :

  1. Tingkat Kepercayaan Diri, Kontrol Diri, Tanggung Jawab Dan Motivasi Berprestasi Remaja Pengguna Napza
  2. kontrol Diri Dan Persepsi Remaja Yang Merokok Dan Tidak Merokok Terhadap Orangtuanya 
  3. Pelatihan Kecerdasan Emosi Mampu Meningkatkan Kontrol Diri Narapidana

Artikel Psikologi

Jurnal Psikologi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: