Pemberian Hukuman Kepada Remaja Berkaitan Erat Dengan Perilaku Agresif Remaja

Hubungan Pemberian Hukuman Oleh Orangtua Dengan Kecenderungan Perilaku Agresif Pada Remaja


Masa remaja ialah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak-anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada di dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integritas dalam masyarakat (dewasa), mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integritas dalam hubungan sosial yang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini (Hurlock, 1980).
Remaja merupakan masa transisi dari masa anak menuju masa dewasa. Masa remaja ditandai dengan perubahan pada sejumlah aspek perkembangan meliputi fisik, fisiologis, emosi, intelektual, moral dan sosial. Remaja harus meninggalkan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan sikap lamanya masa kanak-kanak (Sulastri, 1984)
Thorndike (Koeswara, 1988) dengan law of effect menekankan bahwa dalam proses belajar atau pembentukan suatu tingkah laku, reward dan punishment memainkan peranan penting. Agresi terbentuk dan diulang dilakukan oleh individu kerena dengan agresinya itu individu tersebut memperoleh efek atau hasil yang menyenangkan. Adapun apabila dengan agresinya itu individu memperoleh efek yang sebaliknya, yakni efek atau hasil yang tidak menyenangkan, maka agresi itu tidak akan diulang.
Menurut Berkowitz (2003) meskipun beberapa macam perilaku orangtua bisa mendukung pola tindak antisosial anak, kita harus ingat bahwa anak-anak tidak hanya menerima secara pasif apa pun yang dilakukan ibu dan ayahnya. Mereka bereaksi terhadap tindakan orangtua, dan respon mereka kemudian bisa mempengaruhi tindakan orangtua selanjutnya. Kehidupan keluarga bisa merupakan serangkaian aksi dan reaksi, di mana para anggota keluarga terus-menerus saling mempengaruhi. 
Dalam kehidupannya, anak belajar mengulangi perbuatan yang benar dengan memperhatikan apakah ia memperoleh hadiah atas perbuatannya, dan ia belajar menghindari perbuatan yang keliru dengan memperhatikan bahwa ia tidak memperoleh hadian atas perbuatannya. Sebagaimana diketahui secara intuisi oleh orangtua, jika anak melakukan perilaku agresif dan bebas tanpa hukuman, maka kemungkinan ia akan melakukannya lagi. Keberhasilan merupakan hadiah baginya, dan dengan demikian muncullah sebuah pola “mencapai tujuan melalui kekerasan” (Bailey, 1988)
 Menurut Sears (2004) rasa takut terhadap hukuman atau pembalasan bisa menekan perilaku agresif. Individu akan memperhitungkan akibat agresi di masa mendatang, dan berusaha untuk tidak melakukan perilaku agresif bila ada kemungkinan mendapat hukuman. Efek dari hukuman atau pembalasan yang diantisipasi tidak sederhana. Kadang-kadang hal itu menekan agresi, bila secara rasional orang ingin menghindari rasa sakit di masa mendatang.
Keluarga selaku lingkungan terdekat dari remaja memberikan hukuman dengan muksud untuk meminimalisasikan perilaku-perilaku agresif yang muncul pada remaja. Diharapkan dengan adanya pemberian hukuman dari orangtua, remaja dapat lebih mengontrol perilakunya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: