Dukungan Sosial Dengan Kecemasan

Hubungan Antara Dukungan Sosial Istri Dengan Kecemasan Suami Menjelang Masa Pensiun

Pensiun sebagai tanda berakhirnya masa kerja menjadi tahap krisis seseorang dalam memasuki usia lanjut. Konsekuensi-konsekuensi yang dihadapi pensiun seperti berkurangnya pendapatan karena sudah tidak bekerja lagi, perubahan status sosial baru dalam keluarga dan masyarakat dan hilangnya kekuasaan yang dulu dimiliki karena berhentinya bekerja seringkali menimbulkan kecemasan. Hilangnya hal-hal tersebut pada saat pensiun akan membuat suami merasa tidak berarti dan kehilangan harga diri sebagai seorang kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan keluarga karena tidak mampu lagi memperoleh pendapatan yang cukup. Suami yang akan memasuki masa pensiun perlu melakukan penyesuaian psikologis dan sosial. Penyesuaian dalam memasuki masa pensiun akan semakin bertambah sulit apabila perilaku keluarga tidak menyenangkan (Hurlock, 1994 ).
            Adanya dukungan dari keluarga terutama dukungan  dari istri tercinta dapat menjadi kunci penyesuaian bagi suami. Istri merupakan sumber utama bagi hubungan yang intim, saling menguntungkan, dan dukungan emosional (Steven-Long, 1984). Istri yang mendukung yang dapat memberikan dukungan emosional dengan meyakinkan suami bahwa ia adalah individu berharga yang disayangi dan tidak sendiri. Kehangatan dan cinta kasih dari sang isteri akan memungkinkan suami yang tertekan dan cemas dalam menghadapi pensiun akan dapat menghadapinya dengan tenang. Brill & Hayes (1981) mengatakan bahwa individu yang memperoleh dukungan sosial yang cukup dalam lingkungan mereka lebih mampu menghadapi stress dan mengurangi depresi terhadap masalah-masalah terutama kecemasan menjelang masa pensiun. Melalui hubungan antar individu, antar kelompok, individu memperoleh pengalaman, baik langsung maupun tidak langsung, menguntungkan atau merugikan. Dukungan dapat dikatakan bermanfaat jika sesuai dengan apa yang diharapkan dan dibutuhkan oleh indivudu yang bersangkutan dan juga tergantung penerimaan individu terhadap dukungan tersebut (Kartikasari, 1995).
            Tingkat dukungan sosial  individu tidak sama antara individu satu dengan yang lainnya. Keadaan ini disebabkan karena terdapat perbedaan persepsi dalam menerima atau  merasakannya. Dukungan akan sangat dirasakan artinya apabila diberikan oleh orang-orang yang sangat berarti dalam kehidupan individu. Keadaan ini akan menimbulkan perasaan bahwa individu dicintai, dihargai dan diperhatikan sehingga meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri terutama bagi suami menjelang masa pensiun  (Cobb dalam Sarafino, 1990).
            Individu tidak hanya membutuhkan kehadiran individu lain tetapi peran individu lain dalam kehidupannya. Dukungan dari individu lain merupakan suatu wujud peran seseorang dalam kehidupan individu. Seorang suami mendapat dukungan sosial dari istrinya karena istri adalah orang terdekat dan paling dipercaya oleh suami. Dukungan istri akan melindungi suami dari keadaan yang menegangkan atau membuat stress. Apabila dukungan dari istri yang diterima cukup maka kesehatan fisik dan mental suami akan baik (Sarafino, 1990). Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa dukungan sosial berhubungan dengan penurunan stress (La Rocco dkk dalam Sarafino, 1990).
            Pensiun sebagai masa peralihan hidup dapat mendatangkan ketegangan dan kecemasan. Suami yang memperoleh dukungan istri akan melalui proses ini dengan mudah, sebaliknya bila tidak ada atau kurangnya dukungan dari istri maka suami akan mengalami kesulitan dalam melalui masa peralihan tersebut. Dukungan emosional dan penerimaan terhadap pensiunan oleh istri menjadi hal penting dalam penyesuaian terhadap pensiun (Heyman dkk dalam Chown, 1977). Suami yang mempunyai keyakinan akan dukungan dari istrinya mempunyai perasaan bahwa sang istri sangat memperhatikannya, menyayanginya dan akan membantu disaat dibutuhkan, cenderung merasa aman dan timbul rasa percaya diri menjelang masa pensiun.
Saranson (Husodo, 2002) menyimpulkan bahwa orang-orang yang mendapat dukungan sosial yang tinggi akan mengalami hal-hal positif kehidupan, memiliki harga diri yang lebih tinggi dan mempunyai pandangan yang lebih optimis terhadap kehidupan daripada orang-orang yang rendah dukungan sosialnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: