Efikasi Diri Dan Kecemasan

Hubungan Antara Efikasi Diri Pada Tugas Akademik Dengan Kecemasan Berkomunikasi Interpersonal

Seorang mahasiswa yang ragu akan kemampuannya dalam melaksanakan serangkaian tugas akademik, atau dengan kata lain memiliki efikasi diri pada tugas akademik yang rendah akan mengurangi usahanya atau mudah menyerah ketika menghadapi situasi yang sulit dan penuh tantangan. Sebaliknya, bagi individu yang memiliki efikasi diri pada tugas akademik yang tinggi justru menyukai tantangan dan tidak suka melakukan tugas–tugas   akademik yang mudah. Seperti yang diungkapkan Watson dan Tharp (1989) yang mengemukakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan khusus yang berkenaan dengan pelaksanaan suatu tugas tertentu bukan keyakinan umum tentang diri sendiri.
Bandura (1997) mengemukakan bahwa teori kognitif sosial memandang bahwa persepsi tentang efikasi diri berperan sebagai sebuah mekanisme kognitif yang memungkinkan individu mengendalikan reaksi terhadap tekanan.  Apabila individu yakin bahwa individu tersebut mampu menghadapi tekanan yang muncul dengan efektif, maka individu tersebut tidak akan merasa cemas dan gelisah. Sebaliknya bila individu merasa tidak dapat mengendalikan tekanan dari lingkungan yang dirasa mengancam dirinya, individu tersebut akan menderita dan tertekan, akan cenderung selalu memikirkan ketidakmampuannya dan melihat lingkungan sebagai ancaman. Dengan demikian individu membuat dirinya merasa tertekan dan tidak dapat berfungsi secara normal.
Efikasi mempunyai pengaruh terhadap keadaan emosi manusia. Salah satu akibat yang ditimbulkan apabila efikasi diri rendah adalah suasana hati atau mood yang negatif.  Baron dan Byrne (1991)  melakukan penelitian terhadap sejumlah pasien–pasien yang sakit parah, menemukan bahwa individu dengan efikasi diri rendah cenderung mempunyai perasaan depresi dan perasaan tidak berdaya yang lebih besar dibandingkan dengan individu dengan efikasi diri yang tinggi.
Beberapa penelitian serupa yang dilakukan oleh ahli–ahli lain (dalam Litt, 1989) juga mendapatkan hasil yang kurang lebih sama, yaitu individu yang memiliki efikasi diri tinggi cenderung lebih dapat mentoleransi atau menahan rasa sakit, stres dan situasi–situasi yang menimbulkan kecemasan atau ketegangan daripada individu yang memiliki efikasi diri yang rendah. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Lauger, Janis dan Wolper (Myers,1983) terhadap sejumlah pasien rumah sakit lebih sedikit  membutuhkan obat penghilang rasa sakit atau sedatif. Hal ini disebabkan efikasi diri tersebut mengaktifkan produksi sejenis zat yang disebut opioid yang dapat menghalangi jalannya transmisi rasa sakit sehingga individu dapat befungsi lebih efektif. Baron dan Byrne (1991) berpendapat bila individu memiliki keyakinan tentang kemampuannya dalam menghadapi kecemasan tubuh akan menghasilkan obat yang alami dan aman yang dapat menurunkan kecemasan dan meningkatkan prestasi.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa efikasi diri berkaitan dengan kemampuan indivudu dalam menghadapi kecemasan, termasuk di dalamnya kecemasan berkomunikasi interpersonal.
Banyak orang yang menganggap situasi berkomunikasi interpersonal sebagai situasi yang sangat menegangkan sehingga pada saat dimulainya suatu pembicaraan merupakan hal yang wajar apabila individu mengalami kecemasan, reaksi dan strategi dalam menghadapi situasi yang mencemaskan tersebut berbeda antar individu. Hal ini disebabkan tingkat keyakinan terhadap kemampuan untuk berkomunikasi interpersonal dan mengatasi kecemasan yang muncul pada tiap individu berbeda satu sama lainnya. Keyakinan terhadap kemampuan individu bahwa dirinya cakap dan mampu melakukan tindakan–tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan disebut juga efikasi diri seperti yang sudah disebutkan dalam hasil penelitian dan pendapat–pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas,  tingkatan dan kekuatan efikasi diri seorang individu akan meningkatkan usaha dan daya tahannya dalam menghadapi situasi yang mencemaskan.
Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi, kecemasan yang muncul pada saat ia harus berkomunikasi interpersonal dapat diatasi dan dikelola bahkan dapat dijadikan pendorong usahanya untuk mendapatkan isyarat tentang situasi komunikasi tersebut, sehingga individu dapat berkomunikasi interpersonal dengan baik dan efektif. Selain itu karena merasa yakin dengan kemampuaannya individu yang memiliki efikasi diri tinggi akan berusaha lebih keras dan bertahan lebih lama dalam menghadapi kesulitan–kesulitan atau hambatan–hambatan yang mungkin muncul. Sebaliknya, dalam menghadapi kesulitan, individu yang memiliki efikasi diri yang rendah akan lebih mudah menyerah dalam menghadapi situasi yang menyebabkan dirinya cemas sehingga pada akhirnya tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkannya.
Efikasi diri juga turut menentukan individu menghadapi kegagalan dalam menjalankan usahanya. Bagi individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi, kegagalan dihubungkan dengan usahanya yang dilakukan pada saat individu tersebut gagal, untuk berkomunikasi interpersonal dengan orang lain tetap merasa yakin akan kemampuannya dan menganggap kegagalannya tersebut disebabkan kurangnya usaha yang dilakukan. Sehingga yang dilakukan untuk menghadapi situasi serupa di masa mendatang adalah  berusaha meningkatkan kemampuan dan usahanya bukan menurunkan target atau tujuan yang diinginkan. Sebaliknya individu yang memiliki efikasi diri yang rendah, apabila meghadapi kegagalan akan cenderung untuk menurunkan tujuan mengurangi usahanya atau bahkan menghindari situasi yang berkaitan dengan berkomunikasi interpersonal di masa mendatang.
Bandura (1986) menduga bahwa sebenarnya kesuksesan dan kegagalan dalam mencapai target atau tujuan yang telah ditetapkan individu kurang mempengaruhi secara langsung terhadap pemilihan tindakan atau usaha di masa mendatang, tapi ikut berperan dalam mempengaruhi perasaan atau kepercayaan individu akan efikasi dirinya. Perasaan atau kepercayaan terhadap efikasi diri individu yang akan berpengaruh kuat secara langsung pada perilaku dan pemilihan tindakan yang diambil individu.
Efikasi diri berkaitan dengan keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk menangani tugas-tugas akademik secara efektif dan melakukan tindakan yang diperlukan. Keberhasilan memungkinkan individu membandingkan kemampuan pribadi dengan kemampuan orang lain maupun kemampuan dirinya dalam menghadapi tugas serupa di masa lalu. Ketika seseorang mendapati dirinya berhasil dalam melakukan komunikasi interpesonal, berarti orang tersebut mempunyai cukup kemampuan untuk berhadapan dengan situasi yang mengharuskannya  berkomunikasi interpersonal. Bila seseorang gagal dalam berkomunikasi interpersonal, maka  akan menilai negatif pada dirinya pada saat berhadapan dengan situasi yang mengharuskan untuk berkomunikasi  interpersonal.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: