Fanatisme Positif Klub Sepak Bola

Hubungan Antara Fanatisme Positif Terhadap Klub Sepakbola Dengan Motivasi Menjadi Suporter

Fanatisme meliputi faktor-faktor antara lain  sikap standar ganda yang akan memunculkan prasangka-prasangka sosial dan  dapat memperkeruh hubungan antara kelompok  yang satu dengan kelompok yang lain, menjadikan komunitas sebagai  legitimasi etis hubungan sosial yang mana pengklaiman tatanan sosial biasanya mendapat dukungan dari kelompok tertentu, dan klaim kepemilikan organisasi oleh  seseorang maupun sekelompok orang dengan cara mengidentikkan kelompok sosialnya  dengan organisasi tertentu  (Haryatmoko, 2003). Menurut Ghazali (1998), pandangan bahwa setiap klub yang difavoritkan masing-masing kelompok suporter adalah yang paling hebat sebenarnya wajar-wajar saja  dan  merupakan sesuatu yang sudah semestinya. Sebab setiap kelompok suporter membutuhkan kepastian tentang reputasi  yang ditawarkan oleh klub yang ia favoritkan tersebut.

Jika faktor-faktor fanatisme dikaitkan dengan  teori Maslow (1988) mengenai hirarki kebutuhan hidup manusia, maka alasan seseorang memilih menjadi suporter klub sepakbola adalah untuk terpenuhinya kebutuhan tingkat ketiga, yaitu ingin memiliki-dimiliki dan cinta. Mereka bersemangat untuk berinteraksi dalam wadah suporter guna terbukanya peluang membina persahabatan, memperoleh pengakuan, memiliki identifikasi kelompok dan rasa memiliki sesuatu tujuan bersama. Bahkan pada beberapa individu sudah merambah ke pemenuhan kebutuhan tingkat empat, yaitu kebutuhan terhadap penghargaan, rasa bangga karena memiliki keahlian, prestasi dan prestise dan pemenuhan tingkat kelima dari piramida Maslow, yaitu kebutuhan untuk aktualisasi diri. Kalau teori Maslow dipadu dengan teori Miller dan Sjoberg (1973) mengenai gaya hidup manusia yang meliputi pekerjaan, hiburan dan hubungan antar manusia, maka kelompok suporter adalah perwujudan jenis hiburan tingkat dua. Kalau tingkat pertama seperti menonton televisi, yang pasif, maka hiburan tingkat kedua ini merupakan rekreasi, revitalisasi atau peremajaan diri. Hiburan jenis ini menuntut orang aktif berperan serta untuk mengobarkan semangat, membangkitkan energi baru, melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan waktu senggang

Deliarnov (1996) membedakan motivasi dalam dua kelompok, yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi menjadi suporter bisa ditimbulkan oleh faktor intrinsik yaitu kebutuhan atau keinginan yang ada dalam diri individu, maupun faktor ekstrinsik yaitu faktor yang berhubungan dengan ganjaran atau reward eksternal. White (Daniel dan Esser,1980) mendefinisikan motivasi intrinsik sebagai motivasi untuk melakukan aktifitas yang tidak berdasarkan atas ganjaran atau reward yang jelas kelihatan, kecuali yang langsung berhubungan dengan kegiatan itu sendiri. Motivasi Ekstrinsik didefinisikan sebagai motivasi untuk melakukan aktifitas untuk mendapatkan reward eksternal. Hampton (Suhartono,1990) menyebutkan bahwa ganjaran intrinsik merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan pelaksanaan aktifitas itu sendiri, yakni berupa ganjaran psikologis seperti rasa aman, rasa memiliki, kecakapan, prestasi, harga diri, keinginan untuk berkuasa dan pemenuhan diri. Ganjaran ekstrinsik merupakan sesuatu diluar aktifitas memberi dukungan tapi berhubungan dengan perbuatan memberi dukungan itu sendiri, seperti kegembiraan saat klub yang didukungnya itu menjadi juara
Mcfarland (1979) mengatakan bahwa proses motivasi digambarkan sebagai lingkaran, yang dimulai dengan ketegangan atau dorongan, individu benar-benar sadar akan kebutuhan yang tak terpenuhi. Kemudian diikuti dengan adanya keresahan dan pencarian arti kebutuhan. Akhirnya, kebutuhan mempunyai tingkatan pemenuhan, atau tujuan ditetapkan kembali dan kepuasan akan dicapai. Proses akan utuh bila individu mengevaluasi tingkat kepuasan yang diperoleh dan membuat keputusan mengenai tingkah laku berikutnya. Pada diri seorang suporter sepakbola tingkat pemenuhannya adalah jika individu tersebut dapat menjadi bagian dari suatu wadah suporter dimana bila ia sudah berada didalamnya maka ia akan secara maksimal memberikan segala usahanya dengan cara mendukung klub yang ia favoritkan tersebut. Kepuasan akan timbul bilamana klub yang difavoritkan itu mampu berprestasi maksimal dan ini sudah dapat dikatakan sebagai tolak ukur dari bentuk pengorbanannya dalam mendukung klub kesebelasannya itu selama ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: