Harga Diri And Adversity Quotient

Hubungan Antara Harga Diri Dengan Adversity Quotient Pada Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil


Mahasiswa merupakan sosok generasi penerus bangsa yang dituntut dapat mempunyai Adversity Quotient yang baik. Adversity Quotient merupakan kecerdasan seseorang untuk mengambil keputusan dalam bertindak sehingga ia mampu bertahan dan berusaha mengatasi kesulitan, kemudian akan mendorongnya untuk berusaha mencapai keberhasilan di masa yang akan datang.
Sebenarnya tiap orang mempunyai berbagai macam potensi yang dibawanya sejak lahir, termasuk potensi untuk menyelesaikan permasalahan sehingga mampu untuk menghadapi segala kesulitan dan tantangan-tantangan yang ada. Tiap orang dipastikan mempunyai kecerdasan untuk mempu mengatasi kesulitan sehingga dapat bertahan hidup (Adversity Quotient).
Keyakinan merupakan salah satu dari sekian faktor internal penentu Adversity Quotient seseorang. Keyakinan adalah pikiran yang kita anggap benar (Field, 2000). Pikiran dapat selalu diubah. Pikiran merupakan instrumen dasar untuk mempertahankan kehidupan (Branden, 2001). Semua prestasi yang bermacam-macam merupakan gambaran kemampuannya dalam berpikir.
Keberhasilan hidup tergantung dari ketepatan menggunakan kecerdasan secara tepat yaitu terhadap tugas-tugas dan tujuan-tujuan yang direncanakan untuk diri sendiri serta terhadap hambatan-hambatan yang dihadapi. Ini inti keberadaan individu. Jika seseorang terlanjur mempercayai hal yang tidak mendukung, maka dirinya masih dapat menggantinya dengan keyakinan yang baru yang akan meneguhkan hati dan membangun keyakinan. Namun jika individu meyakini bahwa dirinya benar-benar merasa tidak berdaya dan putus asa maka dirinya akan mengalami ketidakberdayaan. Seligman (Stoltz, 2000) mengatakan bahwa individu yang secara tanpa disadari telah belajar untuk menjadi tidak berdaya akan memunculkan suatu perilaku yang praktis menghancurkan dorongan mereka untuk bertindak. Jadi ketidakberdayaan yang dipelajari itu menginternalisasi keyakinan bahwa apa yang individu kerjakan tidak akan ada manfaatnya. Hal ini melenyapkan kemampuan seseorang untuk memegang kendali. Keyakinan seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungannya seperti orang tua, teman sebaya, guru dan masyarakat yang  merupakan faktor eksternal Adversity Quotient.
Adapun aspek harga diri yang terkait adalah aspek significance (keberartian diri). Significance merupakan aspek yang menggali tentang kesadaran individu bahwa dirinya dapat berarti secara penuh dan keberhargaan diri. Sikap menerima diri sendiri apa adanya tidak akan berarti tanpa adanya kemauan dan keyakinan untuk mengadakan perubahan, perbaikan, atau evaluasi. Penerimaan diri merupakan suatu pra-kondisi menuju perubahan. Shostrom (Poduska, 1990) menyatakan bahwa perkembangan dari penerimaan diri sendiri dicapai melalui beberapa langkah bertahap antara lain keadaan tidak memadai, keadaan tidak aman, keadaan tidak berharga, keadaan dapat diserang dan akhirnya keadaan kelemahan diri individu.
Setiap orang mempunyai bidang-bidang keahlian yang mana ia kurang mampu. Dalam keadaan tidak memadai, seseorang mengenal kemanusiaannya. Jika seseorang tidak mengetahui segalanya, maka ia tidak dapat melakukan segalanya dan ia tidak dapat menjadi segalanya. Tapi seseorang akan melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan. Banyak orang yang tidak beraktualisasi diri menanggapi hal yang tidak memadai sebagai hal yang inferior atau lebih rendah. Dalam pencarian atau usahanya untuk sempurna, seseorang akan mencurahkan begitu banyak waktu, tenaga dan emosi untuk mengatasi setiap ketidakmampuan atau kekurangan. Ia mungkin berhasil mengatasi suatu kekurangan dan menemukan kekurangan yang lain, dalam hal mana terjadi suatu pencarian atau usaha penyempurnaan yang terus-menerus.
Jika individu menerima fakta-fakta yang dirasakan dan bagaimana hakikat dirinya, maka pada setiap saat eksistensi dirinya akan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk menjadi sadar sepenuhnya akan hakikat pilihan-pilihan dan tindakan-tindakannya, dengan demikian perkembangan diri individu tidak akan mengalami hambatan atau kendala.
Harga diri bukanlah fungsi daya tarik fisik sebagaimana yang dibayangkan oleh beberapa orang pada umumnya. Tapi kemauan dan keengganan untuk melihat dan menerima diri seperti apa adanya akan memiliki konsekuensi-konsekuensi pada harga diri. Pada umumnya individu selalu merasa lebih kuat bila tidak mencoba melawan realitas. Individu tidak dapat mengusir ketakutan dengan diri sendiri atau bahkan memaki dirinya sendiri. Tetapi bila individu mempunyai keinginan secara terbuka menerima pengalaman diri sendiri, tetap sadar dan selalu ingat bahwa sebenarnya individu jauh lebih besar daripada emosi-emosi apapun, setidaknya individu dapat memasuki perasaan-perasaan yang tidak diinginkan, dan yang sering diingkari, karena pada saatnya nanti penerimaan diri secara tulus dan ikhlas cenderung mengaburkan perasaan-perasaan negatif dan tidak diinginkan seperti penderitaan, kemarahan, kebencian, atau ketakutan. Kemudian muncullah perasaan bersalah dalam diri.
Aspek significance ini dapat berhubungan langsung dengan aspek pada Adversity Quotient yaitu origin (asal-usul) dan ownership (pengakuan). Jadi, ketika muncul sebuah tantangan ataupun kesulitan, sebaiknya individu mencoba untuk mengenali asal-usul permasalahannya kemudian memikirkan tidakan efektif yang dapat dilakukan untuk mengubah keadaan. Individu harus merasa yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan yang baik serta penghargaan diri yang baik pula untuk dapat mengatasi hambatan-hambatan ini. Akhirnya individu akan memiliki konsep diri yang kuat dan positif.
Namun bila dalam diri individu mulai muncul perasaan bersalah, individu tidak boleh menerima kenyataan tersebut sebagaimana adanya secara ikhlas. Melainkan individu harus mengakui dan menerima perasaan bersalah tersebut dan mencoba mencari strategi untuk mengatasinya secara positif. Jadi individu dapat menerima keberartian dirinya yaitu dengan menerima fakta bahwa apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan semuanya merupakan ungkapan diri ketika semuanya terjadi.
Stoltz (2000) mengatakan bahwa kemampuan untuk menilai apa yang seseorang lakukan dengan benar atau salah dan bagaimana dirinya dapat memperbaikinya merupakan hal yang mendasar untuk mengembangkan diri sebagai pribadi. Respon seseorang terhadap asal-usul sumber kesulitan yang rendah dapat menghentikan lingkaran umpan balik ini karena adanya beban mempersalahkan diri sendiri yang terus-menerus, yang akan menggerogoti kemampuan individu untuk belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Seperti kritik, rasa bersalah, dan penyesalan hanya bermanfaat dalam situasi dan dosis ukuran yang sesuai. Jika terlampau maka dapat sangat melemahkan semangat dan menjadi destruktif. Stoltz (2000) mengatakan bahwa sekali rasa bersalah menjadi destruktif, rasa bersalah tersebut dapat menghancurkan energi, harapan, harga diri, dan sistem kekebalan seseorang. Clemes & Bean (2001) menegaskan bahwa harga dirilah yang dapat menentukan tingkat kemampuan untuk mengolah sumber-sumber daya atau potensi-potensi yang dibawa sejak lahir. Harga diri merupakan dasar untuk membangun hubungan antar manusia yang positif, proses belajar, kreativitas, serta rasa tanggung jawab pribadi.
Russel (2003), mengatakan bahwa akumulasi pengaruh dari kemampuan mengendalikan diri yang rendah, penyesalan yang berlebihan, dan rasa bersalah yang terlalu besar dapat sangat melemahkan diri individu. Bahkan mungkin individu tersebut dapat memutuskan untuk berhenti meraih kesuksesan.
Aspek virtue berkaitan dengan moral, etika dan religiusitas. Harga diri akan berkaitan secara tidak langsung dengan moral, etika, dan religiusitas individu. Harga diri yang terbentuk pada diri individu akan memperlihatkan baik-buruknya moral tersebut. Ketika dalam bertingkah laku, individu harus menunjukkan suatu etika yang baik agar dapat diterima oleh masyarakat. Bila harga diri individu baik, maka ia akan mampu bertingkah laku dengan baik pula. Demikian pula halnya dengan religiusitas individu akan semakin baik.
Aspek virtue ini dapat berhubungan langsung dengan aspek control (kendali). Dengan mempunyai tingkat moral, etika maupun religiusitas yang baik akan dapat mengajarkan pada diri individu untuk dapat mengendalikan diri terhadap peristiwa-peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Stoltz (2000) mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkat Adversity Quotient yang tinggi akan dapat merasakan kendali yang lebih besar atas peristiwa-peristiwa dalam hidupnya daripada orang yang memiliki tingkat Adversity Quotient yang lebih rendah. Merasakan tingkat kendali, bahkan yang terkecil sekalipun akan membawa pengaruh yang sangat kuat pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran yang mengikutinya.
Haris (Poduska, 1990) mengatakan bahwa tidak ada yang lebih sengsara daripada orang yang bereaksi terus-menerus. Pusat pengendalian emosinya tidak berakar dari dalam dirinya, namun dari dunia diluar dirinya. Temperatur jiwanya selalu bertambah atau berkurang karena iklim sosial di sekelilingnya, dan manusia hanyalah makhluk yang berada dibawah kendali elemen-elemen tersebut. Branden (2001), berpendapat bahwa perlunya memahami bahwa sebagai etika psikologis ideal, harga diri secara tidak langsung menyatakan dan mensyaratkan nilai kehidupan individu yang mulia. Cita-cita ini bermuara pada visi moral yang memandang bahwa setiap orang sebagai suatu tujuan dirinya sendiri sebagai lawan dari doktrin penyerahan diri dan pengorbanan.
Aspek harga diri lainnya yang terkait yaitu aspek competence (prestasi). Aspek ini menggali tentang kesuksesan dalam berprestasi dan rasa kemandirian. Kemandirian merupakan kearifan harga diri. Individu yang harga dirinya kokoh lebih memiliki orientasi yang aktif daripada orientasi pasif. Individu bertanggung jawab sepenuhnya atas pencapaian cita-cita. Tidak menunggu bantuan dari orang lain dan selalu bersikap proaktif (menunda-nunda). Jadi, individu bertanggung jawab sepenuhnya atas eksistensi dirinya. Seorang individu perlu memiliki sikap hidup yang lebih aktif dan bukannya pasif untuk bertanggung jawab atas pilihan-pilihan, perasaan-perasaan, dan tindakan-tindakan yang dilakukan serta tanggung jawab atas pemenuhan hasrat-hasrat bukti eksistensi diri.
Orang-orang yang bertanggung jawab atas eksistensi mereka sendiri cenderung membangkitkan harga diri yang sehat. Pada dasarnya individu berubah dari orientasi pasif menuju orientasi aktif, seseorang lebih menyukai diri sendiri, lebih mempercayai dirinya dan merasakan lebih mampu mengarungi kehidupan, dan lebih pantas menerima kebahagiaan.
Tanggung jawab diri dapat memberikan kesadaran. Hidup dengan penuh kesadaran merupakan hidup yang bertanggung jawab terhadap realitas, hidup yang menghargai berbagai kenyataan, pengetahuan dan kebenaran serta menjadi suatu sarana untuk membangkitkan tingkat kesadaran yang sesuai dengan tindakan-tindakan diri. Aspek competence ini dapat berhubungan langsung dengan aspek reach (jangkauan). Seseorang yang telah biasa terlatih untuk hidup mandiri, dirinya akan sadar dan bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukannya.
Dalam keadaan seseorang yang terus memperbaiki keterampilan-keterampilan, ia akan memperoleh lebih banyak kepercayaan diri dan keyakinan yang kuat. Dengan demikian, seseorang akan dapat mengalami kebebasan dan kespontanan sehubungan dengan keadaan mampu. Menurut Shostrom (Poduska, 1990), menyatakan bahwa keadaan mampu berarti bahwa kebanyakan tantangan-tantangan berada dalam batas-batas kemampuan diri seseorang. Dengan demikian, ketika individu tersebut mengalami kesulitan maka ia akan berusaha membatasi jangkauan masalahnya pada peristiwa yang sedang dihadapi. Pada saat seseorang merasa lemah, dirinya akan cenderung berpikir untuk mundur dari permasalahan dan mengandalkan orang lain untuk menarik dirinya keluar dari permasalahan yang emosional ini. Semakin efektif individu menahan atau membatasi jangkauan kesulitan, individu akan merasa semakin lebih berdaya dan perasaan kewalahan akan berkurang sehingga dapat lebih memperkuat sikap kemandirian serta dapat mencapai kesuksesan yang baik dalam berprestasi.
Hal ini dapat mempengaruhi aspek Adversity Quotient lainnya yaitu aspek endurance (daya tahan). Dengan adanya rasa kemandirian yang besar akan mencegah seseorang dari sikap proaktif (menunda-nunda). Bandura (Supratiknya, 1993), mengatakan bahwa semakin sering seseorang melakukan sesuatu, semakin otomatis dan tidak disadari tindakan tersebut akan segera berubah dan lama-kelamaan diperkuat. Jadi ada stimulus dalam bentuk oral atau visual yang diberikan oleh seorang model atau tokoh. Stimulus ini akan disimpan atau diingat, dan suatu saat akan dilakukan sebagai suatu perilaku. Dari tindakannya, individu akan mendapatkan suatu reward (Sukiat, 2003).
Dengan mengetahui akibat-akibat yang bersifat menghadiahi (reward) atau menghukum (punish) dari tindakan-tindakan yang dilakukan individu atau tindakan-tindakan orang lain, orang mengembangkan harapan kognitif tentang hasil tingkah laku dan tentang apa yang harus mereka lakukan untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan atau menghindari hasil-hasil yang tidak menyenangkan. Jadi keyakinan akan penguasaan inividu atas kehidupan dan kemampuan yang dimilikinya untuk menghadapi tantangan atau sering disebut efektivitas diri, akan dapat mengendalikan imbalan-imbalan (rewards) dan hukuman-hukuman (punishes) yang kemudian menjadikan individu tidak terlalu mengalami depresi dan cenderung mau bertindak untuk memperbaiki situasi yang buruk. Sehingga individu menjadi jauh lebih berdaya dan tahan banting meskipun harus mengahadapi situasi maupun peristiwa yang sangat buruk. Hal ini akan membentuk seseorang untuk memiliki tingkat Adversity Quotient yang tinggi. Dalam hal ini harga diri sangat berperan penting. Seseorang yang memiliki penghargaan diri yang tinggi akan cenderung untuk bersikap langsung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi tanpa memerlukan bantuan dari orang lain sehingga menjadikan seseorang untuk semakin mandiri dalam hidupnya.
Jadi, dengan adanya faktor genetika, pendidikan yang baik dan keyakinan individu yang mantap untuk menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi kemudian didukung pula oleh adanya kecerdasan, kesehatan fisik dan emosi yang baik maka akan dapat membentuk suatu karakter kepribadian yang baik. Disamping itu, dengan disertai bakat yang dimiliki dan kemampuan untuk mencapai sukses yang kuat akan dapat menciptakan suatu kinerja. Jika mahasiswa meyakini memiliki penghargaan diri yang rendah, maka ia akan memiliki keyakinan atau pengharapan yang rendah untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi kemudian akan menghasilkan kinerja yang buruk, sehingga individu akan sungguh-sungguh meyakini bahwa dirinya memang buruk dan tidak mampu bertahan untuk menghadapi kesulitan yang ada. Misalnya seperti perilaku menyontek hasil laporan, malas menyelesaikan tugas perkuliahan, cenderung mengeluh ketika diberikan tugas oleh dosen-dosen dan motivasi berprestasi yang sangat rendah. Hal ini menunjukkan adanya tingkat Adversity Quotient yang rendah pada diri individu. Sedangkan, jika individu meyakini bahwa dirinya mempunyai penghargaan diri yang tinggi maka individu akan memiliki harapan yang positif dan suportif sehingga bisa menghasilkan kinerja yang baik pula. Sehingga individu semakin meyakini bahwa dirinya memang berarti, berharga, dan menjadikan individu mampu bertahan untuk menghadapi kesulitan yang ada. Hal ini menunjukkan adanya tingkat Adversity Quotient yang tinggi pada diri individu.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: