Harga Diri Dan Perilaku Prososial

Hubungan Antara Harga Diri Dengan Perilaku Prososial Pada Perawat Rsu Pku Muhammadiyah Yogyakarta


Salah satu karakteristik kepribadian yang mempengaruhi perilaku menolong adalah harga diri. Harga diri merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang tentunya juga berhubungan dengan perilaku terhadap orang lain secara sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Staub (Edison & German, 2004) menunjukkan ada hubungan antara tingkat harga diri dengan perilaku prososial. Individu-individu dengan tingkat harga diri yang tinggi akan cenderung berperilaku prososial dibandingkan individu-individu dengan tingkat harga diri yang rendah.

Wilson (Edison & German, 2004) melakukan sebuah penelitian tentang interaksi antara faktor situasional, harga diri dan keamanan mengenai perilaku menolong, dan menemukan bahwa orang yang mempunyai tingkat harga diri yang tinggi tetap menolong secara terus menerus meskipun dalam situasi-situasi yang berbeda.
Self-competence adalah kepercayaan diri dan kemampuan seseorang. Menurut UU RI. No. 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan (Ali, 2002) perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan. Karena perawat memiliki kemampuan khusus dibidangnya maka perawat akan berusaha menolong baik itu menolong dengan sukarela, selalu melayani pasien setiap kali pasien meminta pertolongan, memberikan pertolongan karena perasaan emosi ketika melihat penderitaan pasien, bahkan menolong ketika ada pasien yang dalam keadaan krisis untuk memberikan pelayanan kesehatan serta pencegahan penyakit dengan menggunakan kemampuan yang dimiliki.
Midlarsky (Edison & German, 2004) menggambarkan ada hubungan antara kemampuan (competence) atau kepercayaan diri dengan perilaku prososial. Seorang individu yang ingin sekali membantu dan ia mampu serta mempunyai kepercayaan diri kemungkinan besar akan berperilaku menolong. Ada keuntungan positif bagi kedua belah pihak baik yang memberikan pertolongan ataupun yang ditolong jika pertolongan tersebut berhasil, tingginya tingkat kepercayaan diri dan kemampuan yang dimiliki bisa saja mengawali tindakan menolong selanjutnya. Dengan demikian tingginya harga diri akan meningkatkan perilaku prososial lebih lanjut. Bandura dan peneliti-peneliti lainnya (Carlo, dkk., 2006) mengatakan tentang kepercayaan individu dan pemahaman akan kemampuan mereka (self-efficacy) merupakan pengaruh yang kuat dari perilaku sosial yang akan datang (termasuk perilaku prososial).
Self-liking merupakan perasaan diri sebagai orang yang baik. Individu yang merasa bahwa dirinya adalah orang yang baik selalu peduli dan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi terhadap sesama, sehingga ketika melihat orang lain dalam kesulitan maka individu tersebut akan berusaha menolong untuk meringankan beban orang lain. Baron & Byrne (2003) mereka yang paling menolong mengekspresikan kepercayaan bahwa setiap orang bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik untuk menolong orang yang membutuhkan. Faturochman (2006) mengatakan individu yang mempunyai orientasi sosial tinggi cenderung lebih mudah untuk memberi pertolongan, demikian juga orang yang memiliki tanggung jawab sosial. Pendapat tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh O’Connor & Cuevas (Heinze, 2005) menemukan ada hubungan yang tinggi antara tanggung jawab sosial individu terhadap perilaku prososial.
Studi psikologi menunjukkan bahwa tingkat harga diri dan otonomi yang lebih tinggi mengkarakteristikkan orang yang lebih membantu (Heymes & Green, 1977). Studi penelitian yang dilakukan oleh Heymes & Green (1977) membuktikan korelasi positif antara motivasi harga diri dengan perilaku prososial. Dalam hirarki kebutuhan Maslow (Heymes & Green, 1977) terdapat beberapa tingkatan kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan kepemilikan, harga diri, pemahaman kognitif dan aktualisasi diri. Menurut Maslow (Heymes & Green, 1977) kebutuhan harga diri berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada kebutuhan rasa aman. Orang yang harga dirinya tinggi dalam skema Maslow akan merasa lebih bertanggung jawab secara sosial dan peduli terhadap sesama dibandingkan orang yang lebih dominan terhadap rasa aman.
Eisenberg (Edison & German, 2004) mempunyai pandangan bahwa orang-orang dengan tingkat harga diri yang berbeda cenderung memberikan bantuan dengan alasan yang berbeda pula. Mereka yang mempunyai tingkat harga diri rendah sampai sedang berperilaku prososial hanya untuk memperoleh penerimaan atau menghindari penolakan. Sedangkan mereka dengan tingkat harga diri yang tinggi cenderung tetap memberikan bantuan walaupun kemungkinan besar mereka mendapatkan penolakan. Semakin tinggi tingkat harga diri seseorang semakin besar kemungkinan orang tersebut berperilaku prososial.

Satu Tanggapan

  1. buku bandura yang di pakai dalam artikel ini judulnya apa ya bung???

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: