Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan

Faktor-faktor kecemasan ditunjukkan dengan beberapa penelitian genetika telah menghasilkan data yang kuat bahwa sekurangnya suatu komponen genetika berperan terhadap gangguan kecemasan (Kaplan dkk, 1997). Gray (Kazdin, 2000) mengatakan bahwa mereka yang secara genetis bakat cemasnya tinggi akan lebih sering mengalami kecemasan dibandingkan dengan yang rendah dalam menafsirkan rangsangan baik internal maupun eksternal yang bersifat mengancam. Para ahli juga menghipotesiskan bahwa beberapa pasien dengan gangguan kecemasan memiliki reseptor GAAB (Gamma-Asam Amino Butirat) yang abnormal, patologi fungsional serebral, serta sistem regulasi saraf dan hormon yang buruk.
Hadjam dan Nurhalita (2002) menyimpulkan bahwa ada hubungan negatif yang bermakna antara persepsi tentang layanan keperawatan dengan kecemasan pasien rawat inap di rumah sakit dalam penelitiannya tentang kecemasan pasien rawat inap ditinjau dari persepsi tentang layanan keperawatan di rumah sakit. Hartanto (1996) menyimpulkan bahwa ada hubungan negatif antara kecemasan akan kematian dengan belief in afterlife pada usia dewasa menengah dari penelitiannya tentang hubungan antara kecemasan akan kematian dengan belief in life after death pada usia dewasa menengah. Schwarzer (1997) menyebutkan bahwa kecemasan berkorelasi negatif dengan efikasi diri di mana individu yang merasa tidak mampu untuk mengatasi tugas-tugas yang menantang, memiliki kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang merasa mampu. Penelitian Sari (2004) tentang hubungan antara kebermaknaan hidup dengan kecemasan pada wanita penderita kanker menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kebermaknaan hidup dan kecemasan pada wanita penderita kanker.
Kaplan, Sadock, & Grebb (1997) menyebutkan bahwa konsumsi alkohol, amfetamin, kokain, inhalan, halusinogen, dan kafein telah paling sering dihubungkan dengan timbulnya gejala gangguan kecemasan. Freud (Kaplan dkk, 1997) mengatakan bahwa kecemasan secara hirarkis berhubungan dengan berbagai tingkat perkembangan. Kecemasan mungkin berhubungan dengan penghancuran atau fusi oleh orang lain pada tingkat yang paling primitif. Kecemasan berhubungan dengan perpisahan dari objek yang dicintai pada tingkat perkembangan yang lebih matur. Kecemasan juga berhubungan dengan hilangnya cinta dari objek yang penting pada tingkat yang masih lebih matur. Kecemasan kastrasi berhubungan dengan fase oedipal dari perkembangan dan dianggap merupakan satu tingkat tertinggi dari kecemasan. Bentuk kecemasan yang paling matur adalah kecemasan superego yaitu ketakutan mengecewakan gagasan dan nilai sendiri. Rank mengembalikan terjadinya semua kecemasan kepada trauma kelahiran sedang Sullivan menekankan hubungan awal antara ibu dan anak dan transmisi kecemasan ibu kepada bayinya (Kaplan dkk, 1997).

Penelitian genetika telah menghasilkan data yang kuat bahwa sekurangnya suatu komponen genetika berperan terhadap gangguan kecemasan (Kaplan dkk, 1997). Gray (Kazdin, 2000) mengatakan bahwa mereka yang secara genetis bakat cemasnya tinggi akan lebih sering mengalami kecemasan dibandingkan dengan yang rendah dalam menafsirkan rangsangan baik internal maupun eksternal yang bersifat mengancam. Para ahli juga menghipotesiskan bahwa beberapa pasien dengan gangguan kecemasan memiliki reseptor GAAB (Gamma-Asam Amino Butirat) yang abnormal, patologi fungsional serebral, serta sistem regulasi saraf dan hormon yang buruk.

Hadjam dan Nurhalita (2002) menyimpulkan bahwa ada hubungan negatif yang bermakna antara persepsi tentang layanan keperawatan dengan kecemasan pasien rawat inap di rumah sakit dalam penelitiannya tentang kecemasan pasien rawat inap ditinjau dari persepsi tentang layanan keperawatan di rumah sakit. Hartanto (1996) menyimpulkan bahwa ada hubungan negatif antara kecemasan akan kematian dengan belief in afterlife pada usia dewasa menengah dari penelitiannya tentang hubungan antara kecemasan akan kematian dengan belief in life after death pada usia dewasa menengah. Schwarzer (1997) menyebutkan bahwa kecemasan berkorelasi negatif dengan efikasi diri di mana individu yang merasa tidak mampu untuk mengatasi tugas-tugas yang menantang, memiliki kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang merasa mampu. Penelitian Sari (2004) tentang hubungan antara kebermaknaan hidup dengan kecemasan pada wanita penderita kanker menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kebermaknaan hidup dan kecemasan pada wanita penderita kanker.

Kaplan, Sadock, & Grebb (1997) menyebutkan bahwa konsumsi alkohol, amfetamin, kokain, inhalan, halusinogen, dan kafein telah paling sering dihubungkan dengan timbulnya gejala gangguan kecemasan. Freud (Kaplan dkk, 1997) mengatakan bahwa kecemasan secara hirarkis berhubungan dengan berbagai tingkat perkembangan. Kecemasan mungkin berhubungan dengan penghancuran atau fusi oleh orang lain pada tingkat yang paling primitif. Kecemasan berhubungan dengan perpisahan dari objek yang dicintai pada tingkat perkembangan yang lebih matur. Kecemasan juga berhubungan dengan hilangnya cinta dari objek yang penting pada tingkat yang masih lebih matur. Kecemasan kastrasi berhubungan dengan fase oedipal dari perkembangan dan dianggap merupakan satu tingkat tertinggi dari kecemasan. Bentuk kecemasan yang paling matur adalah kecemasan superego yaitu ketakutan mengecewakan gagasan dan nilai sendiri. Rank mengembalikan terjadinya semua kecemasan kepada trauma kelahiran sedang Sullivan menekankan hubungan awal antara ibu dan anak dan transmisi kecemasan ibu kepada bayinya (Kaplan dkk, 1997).

Iklan

2 Tanggapan

  1. […] Faktor  Yang Mempengaruhi Kecemasan […]

  2. saya masih SMA, blog ini benar-benar menginsipirasi saya untuk jadi seorang psikolog 🙂
    kalau psikolog yang ada hubungannya sama psikiater itu jenisnya apaka psikologi klinis? saya belum begitu paham pengklasifikasiannya. admin, bisa tolong jelaskan? sekalian mengajarkan saya hehe

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: