Aspek-Aspek Pola Asuh Otoriter

Menurut Frazier (2000), ada empat aspek-aspek  pola asuh otoriter, yaitu:

a.   Aspek batasan perilaku (behavioral guidelines)

Pada aspek ini, orangtua sangat kaku dan memaksa. Anak – anak sudah dibentuk sejak kecil sehingga mereka tidak mempunyai ruang untuk berdiskusi atau meminta keterangan. Cara yang digunakan untuk memaksakan petunjuk – petunjuk perilaku tersebut melalui cara – cara diktator, seringkali memakai hukuman yang berlebihan atau keras dan di luar kemampuan si anak untuk menjalankan hukuman tersebut. Keseluruhan tujuan dari gaya ini adalah untuk melakukan kontrol anak dan bukannya mengajari anak atau membantu anak untuk mengembangkan otonominya.

b. Aspek kualitas hubungan emosional orangtua-anak (emotional quality of parent-child relationship)

Gaya pengasuhan ini mempersulit perkembangan kedekatan antara orangtua dan anak. Kedekatan yang sebenarnya didasari oleh saling menghormati dan satu keyakinan pada diri orangtua bahwa anak mempunyai kapasitas untuk belajar mengontrol dirinya dan membuat keputusan melalui petunjuk – petunjuk perilaku dan kapasitas kognitif yang mereka miliki.

Gaya pengasuhan ini tidak mengakui proses individuasi pada anak dan pertumbuhan otonomi pada diri anak. Kedekatan yang dapat berkembang dengan gaya pengasuhan seperti ini adalah kedekatan semu karena kedekatan tersebut muncul dari rasa takut anak untuk tidak menyenangkan orangtua dari pada keinginan untuk tumbuh dan berkembang.

c.  Aspek perilaku mendukung (behavioral encouraged)

Pada aspek ini perilaku orangtua di tunjukkan dengan mengontrol anaknya daripada mendukung anaknya agar mereka mampu berfikir memecahkan masalah. Orangtua sering melarang anaknya dan berperilaku negatif dan memberi hukuman. Jadi orangtua lebih memberi perintah daripada menjelaskan untuk melakukan sesuatu atau menyelesaikan masalah.

d.  Aspek tingkat konflik orangtua – anak (levels of parent-child conflict)

Kontrol berlebihan tanpa kedekatan yang nyata dan rasa saling menghormati akan memunculkan pemberontakan pada anak. Dengan kata lain pengasuhan ini dapat menimbulkan banyak konflik antara orangtua dengan anak sekalipun hal itu tidak ditunjukkan secara terang – terangan. Konflik ini bisa muncul dalam bentuk perkelahian antara anak yang satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan aspek–aspek pola asuh otoriter menurut Frazier (2000), yaitu: aspek batasan perilaku (behavioral guidelines), aspek kualitas hubungan emosional orangtua – anak (emotional quality of parent-child relationship), aspek perilaku mendukung (behavioral encouraged), aspek tingkat konflik orangtua – anak (levels of parent-child conflict).

Postingan Terkait :

Pengertian pola asuh orangtua terhadap anak

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: