Peran Seks Yang Berwawasan Jender

Peran seks yang berwawasan jender dan menjadi isu-isu jender adalah sebagai berikut ( LSPPA, 1999 ) :

a. Arti dan nilai anak menurut jenis kelamin.

Anak laki-laki cenderung mempunyai arti yang berhubungan dengan martabat, perlindungan dan tumpuan harapan keluarga masa depan. Diharapkan laki-laki mampu menjadi pemimpin perempuan. Perempuan di sini tidak hanya sebagai istrinya, melainkan juga ibu dan saudara perempuannya.

Anak perempuan mempunyai arti yang berhubungan dengan kepraktisan, dalam arti kehadirannya bermanfaat untuk memperlancar kegiatan beres-beres urusan rumah tangga. Seperti yang terungkap dalam kata-kata seorang ibu : “letak senangnya punya anak perempuan ialah bisa ada yang menggantikan tugas ibu membereskan tugas rumah tangga, sehingga ibu bisa bekerja dengan tenang.

b. Pengenalan norma jender pada masa kecil

Pembiasaan identitas yang sesuai dengan norma gender pada anak tidak cukup dalam bentuk fisik saja, tetapi juga dalam bentuk latihan bersikap sebagai sepantasnya seorang perempuan atau seorang laki-laki. Latihan-latihan yang diberikan orangtua berupa ajaran normatif yaitu rambu-rambu larangan dan anjuran, misalnya “anak perempuan jangan suka ngeyel” atau “anak laki-laki tidak boleh cengeng”.

Para orangtua juga memandang perlu memberikan jenis permainan yang sesuai dengan jenis kelamin masing-masing, sebab menurut mereka alat permainan dapat mempengaruhi sifat yang akan terbentuk.

c. persoalan pergaulan, seksualitas dan cita-cita di kalangan remaja.

Norma pergaulan antara remaja laki-laki dan perempuan ditujukan untuk membatasi hubungan antar jenis kelamin secara bebas. Para orangtua yang mempunyai anak perempuan biasanya sadar akan resiko yang akan mengintai mereka, karena itulah larangan-larangan bagi remaja perempuan sangat banyak.

Kalangan remaja perempuan yang mengecap pendidikan sekolah mempunyai motivasi yang kuat untuk bekerja setelah mereka lulus sekolah, namun norma peran ganda perempuan sudah terinternalisasi sejak perempuan masih remaja.

d. Pembagian peran dalam rumah tangga

Pembagian peran dalam rumah tangga ini jika diruntut asalnya, maka paling sedikit ada tiga sumber kebudayan yang menjadi acuan, yaitu ajaran islam ( penafsiran yang diajarkan ), ajaran dari tradisi jawa ( kejawen ), dan ajaran dari tradisi Indonesia yang sedang terbentuk. Adanya tradisi umat islam yang berkembang bahwa kaum perempuan didomestikasi menjadi ibu rumah tangga, para istri tidak boleh keluar rumah kalau tidak diijinkan suami mereka. Kemudian dalam hal kejawen, menekankan bahwa suami tampil dominan atas istri. Oleh karena itu citra ideal seorang istri jawa adalah seorang istri yang total menjadi baying-bayang suami.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: