HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN ISTRI DENGAN STRES KERJA PEJABAT STRUKTURAL PEMERINTAH DAERAH

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan terlepas dari stres. Stres tidak mungkin dihindari, tapi sebenarnya banyak cara untuk mengatasinya. Oleh karenanya stres bukan merupakan tantangan yang menakutkan, justru stres dapat menjadi peluang untuk meraih kesuksesan. Stres yang dimaksud di sini ialah suatu akibat dari tekanan emosional, rangsangan-rangsangan atau suasana yang merusak keadaan fisiologis seorang individu. Penyebab dari stres beragam, bisa karena tidak mempunyai pekerjaan, sakit yang tak kunjung sembuh, tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan, pekerjaan kantor yang menumpuk, krisis, dan masih banyak lagi penyebab lainnya. (Anoraga & Widiyanti, 1993).

Bagi masyarakat pada era industrialisasi sekarang ini, pekerjaan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat penting. Bagi masyarakat modern bekerja merupakan suatu tuntutan yang mendasar, baik dalam rangka mengembangkan dirinya. Pada kenyataannya, sebagian besar pekerjaan cenderung memiliki konotasi paksaan, baik yang ditimbulkan dari dalam diri sendiri ataupun yang ditimbulkan dari luar. Pekerjaan juga seringkali meliputi penggunaan waktu dan usaha di luar keinginan individu pekerja. Banyak pekerja yang melakukan pekerjaan rutin, yang sedikit menuntut inisiatif dan tanggung jawab, dengan harapan dapat berpindah ke pekerjaan lainnya. Banyak juga pekerja yang melakukan tugas di bawah kemampuan intelektualnya atau di bawah tingkat pendidikan yang diperolehnya. Hal tersebut akan menyebabkan timbulnya stres dalam bekerja. (Leila, 2002).

Ada beberapa alasan mengapa masalah stres yang berkaitan dengan organisasi perlu diangkat ke permukaan pada saat ini (Nimran, 1999). Alasan tersebut adalah masalah stres posisinya sangat penting dalam kaitannya dengan produktivitas kerja karyawan, stres juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam organisasi, pemahaman akan sumber stres disertai pemahaman cara-cara mengatasinya, penting sekali bagi karyawan dan siapa saja yang terlibat dalam organisasi, atasan maupun bawahan, pernah mengalami stres meskipun dalam taraf yang amat rendah, di zaman kemajuan di segala bidang manusia semakin sibuk, peralatan kerja semakin modern dan efisien, namun beban kerja di satuan organisasi juga semakin bertambah sehingga akan menuntut energi pegawai yang lebih besar, akibatnya pengalaman yang disebut stres dalam taraf yang cukup tinggi menjadi semakin terasa.

Masalah-rnasalah tentang stres kerja pada dasarnya sering dikaitkan dengan pengertian stres yang terjadi di lingkungan pekerjaan, yaitu dalam proses interaksi antara seorang karyawan dengan aspek-aspek pekerjaannya.
Pada hakekatnya stres dapat terjadi di mana saja tidak terkecuali dalam bidang pekerjaan. Manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup sehingga tidak mengherankan jika kebanyakan sumber-sumber stres dalam kehidupan manusia justru dialami karena situasi pekerjaan. (Jex, 1992).

Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang merupakan bagian dari komunitas masyarakat umum, juga tidak dapat terlepas dari masalah stres ini. Bahkan kelompok Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini ditengarai sebagai kelompok yang sangat beresiko terkena stres jika dikaitkan dengan aktivitas kerja sehari-hari (Lumajang News, 5 Agustus 2005). Idealnya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) bekerja dengan penuh gairah dan semangat kerja yang tinggi. Namun pada kenyataannya sering dijumpai banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tidak konsisten dengan pekerjaannya dan mengalami stres kerja. Hal ini menyebabkan kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak optimal dan pelayanan kepada masyarakat juga tidak maksimal.

Stres di kalangan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dsebabkan oleh berbagai hal seperti hasil kinerja yang belum optimal sehingga tidak memuaskan pimpinan hingga pada pelaksanaan pelantikan pejabat yang bersifat mendadak serta belum terpenuhinya tuntutan pelayanan kepada masyarakat yang semakin kritis yang menuntut aparat semakin transparan, akuntabel, terbuka, dan lebih aplikatif dari pada teori (Lumajang News, 5 Agustus 2005).

Pejabat struktural yang merupakan bagian dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), idealnya juga harus bekerja dengan penuh gairah dan semangat kerja yang tinggi. Namun pada kenyataannya banyak orang yang mengalami stres ketika sedang bekerja. Seorang pejabat struktural di pemerintahan daerah rentan sekali menghadapi stres sehingga tugas utama untuk melayani masyarakat sering kali belum optimal. Penyebab stres kerja tersebut bisa karena tuntutan tanggung jawab yang besar, kedisiplinan kerja, pekerjaan yang terlalu banyak sehingga memerlukan pikiran dan waktu yang banyak pula.

Kinerja pejabat struktural yang menurun akibat stres berdampak pada kurang optimalnya pelayanan kepada masyarakat. Padahal dewasa ini masyarakat menuntut pelayanan yang baik dan cepat. Oleh sebab itu stres yang dialami oleh pejabat struktural tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Penyebab stres harus segera diketahui dan diambil suatu langkah solusi untuk mengatasinya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: